Banyak Berkeliaran Calon Wakil Rakyat Mantan Koruptor, Kang Tamil : Lebih Bahaya Dari Tsunami

Banyak Berkeliaran Calon Wakil Rakyat Mantan Koruptor, Kang Tamil : Lebih Bahaya Dari Tsunami
Banyak Berkeliaran Calon Wakil Rakyat Mantan Koruptor, Kang Tamil : Lebih Bahaya Dari Tsunami
(Foto : Abdillah, Salah satu calon DPD RI eks napi korupsi dapil Sumatera Utara)

NONSTOPNEWS.ID - Indonesia Corruption Watch (ICW) merilis data 40 napi eks koruptor lolos atau maju mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Dari 40 nama, terdapat di Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) tingkat Kota maupun Provinsi. 

Diketahui, sebelumnya Mahkamah Agung telah mengabulkan gugatan para pemohon terhadap aturan PKPU yang melarang eks napi korupsi untuk maju sebagai calon wakil rakyat. Pengabulan ini sendiri dinilai bertentangan dengan UU no. 7 tahun 2017 tentang Pemilu.

Melihat hal ini, pengamat komunikasi sosial dan politik, Tamil Selvan mengatakan bahwa hal ini sebagai kemunduran dan kecacatan demokrasi di Indonesia. Saat berbincang hangat dengan Nonstopnews.id, Sabtu (5/1/2019), pria yang akrab disapa Kang Tamil menyebut, korupsi merupakan sumber bencana yang menghambat kemajuan bangsa dan lebih berbahaya dari bencana alam, bahkan tsunami sekalipun. 

"Saya sebenarnya agak bingung dengan cara kita berdemokrasi dan bernegara. Bagaimana negara bisa meloloskan permohonan para penjahat berdasi untuk kemudian maju sebagai wakil rakyat. Sementara mereka-mereka adalah penyebab kesengsaraan rakyat," ujar Kang Tamil dengan tegas.

 

Ujar Kang Tamil, ada yang salah dengan cara berfikir para elit bangsa dalam menjabarkan konsep-konsep hukum maupun perundang-undangan.

"Bagaimana mungkin pihak yang merenggut hak asasi rakyat dan telah mencederai konstitusi, justru bertindak seolah sebagai korban yang tercederai hak konstitusinya, dan kemudian gugatannya di kabulkan. Ada yang salah dengan cara berfikir kita," tegas Kang Tamil.

Pria kelahiran Medan, Sumut ini juga menyoroti 3 calon anggota DPD RI eks napi korupsi yang menurutnya sangat penting karena merupakan representatif daerah di pusat. Ketiganya yaitu Abdillah dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatera Utara, Abdullah Puteh dari Naggroe Aceh Darussalam (NAD), dan Syahrial Kui Damapoli dari dapil Sulawesi Utara.

"DPD itu adalah senator, dan saya tidak bisa membayangkan jika posisi sepenting itu yang merupakan cerminan dari daerah pemilihannya, justru di wakilkan kepada seorang mantan napi koruptor. Kasihan rakyat kita," bebernya. 

Lebih lanjut Kang Tamil mengatakan, saat ini sudah tidak ada azas tahu diri dan "malu berbuat salah" di bangsa ini. Korupsi yang amat memalukan justru menjadi seperti prestasi, maka tidak berlebihan jika Tamil menyarankan agar di daftar riwayat hidup atau curiculum vitae para calon eks napi koruptor ini dibubuhkan kolom "prestasi" yang memuat kasus-kasus korupsinya, nilai korupsi, dan lama tahun pidana yang dijalani.

"Saya sendiri sebagai orang yang berasal dari Sumut sebenarnya sangat kecewa dengan adanya calon anggota DPD RI eks napi koruptor dari kampung saya," tandasnya. 

Tamil juga berharap masyarakat Sumut bukan orang yang mudah lupa dengan rekam jejak para calon. Dirinya menghimbau agar KPU dapat proaktif menyebarkan prestasi korupsi para calon-calon tersebut agar diketahui publik.

"Kasihan orang Sumut," tutupnya. (hm)