Arief Klaim Kinerja Bagus, UHC Cuma Terserap 30%  

Arief Klaim Kinerja Bagus, UHC Cuma Terserap 30%   (Nonstopnews.id/Dens)

NONSTOPNEWS.ID - Walikota Tangerang Arief Wismansyah mamaparkan sejumlah pencapaian kinerja sepanjang periode 2013-2018 saat paripurna Penyampaian Laporan Keterangan. 

Pertanggungjawaban Tahun 2018. Berbagai program ia paparkan. Mulai dari bidang sosial, penanganan kemacetan, hingga kaitan birokrasi Pemkot Tangerang.
 
Arief mengatakan, capaian kinerja selama periode tahun 2013-2018 terangkum dalam 15 sasaran indikator kinerja mulai dari kemandirian keuangan daerah, peningkatan kinerja birokrasi, kemudahan perizinan, pendidikan, kesehatan, pelayanan publik berbasis teknologi informasi, layanan transportasi hingga kepariwisataan dan masih banyak lagi.
  
”Dari segi birokrasi kita dapat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian-red). Kemudian lewat Program Tangerang Cerdas indeks pendidikan mencapai 72,87 poin. Kesehatan mencapai 79,12 poin dan untuk pelayanan publik sudah ada 123 layanan perizinan online,” ungkapnya saat memberi sambutan, Rabu (13/3/2019).

Menurut data di lapangan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) mengalami penurunan sebanyak 2,93 persen.

”Artinya apa yang kita lakukan selama lima tahun mulai dari pelayanan jaminan lanjut usia, pelayanan kesejahteraan lewat WKSBM di tingkat RT, RW, hingga kelurahan berhasil,” ungkap Arief.

Dari segi infrastruktur, Pemkot Tangerang membangun pusat-pusat pengendalian banjir sehingga 31 titik banjir di Kota Tangerang telah teratasi.

”Pengerukan lumpur, pembuatan sumur resapan air, sampai pembuatan biopori juga dilakukan intinya semua ini tidak lepas dari partisipasi masyarakat,” imbuhnya. 

Selain itu, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dengan Program Bedah Rumah berhasil dibangun 6.248 unit rumah tidak layak huni dan jamban sehat sebanyak 4.033 unit. 

Penyampaian orang nomor satu di Kota Tangerang mendapat tanggapan dari berbagai fraksi. Salah satunya Fraksi Gerindra DPRD Kota Tangerang. Amarno mengatakan, ia menyayangkan program universal health coverage (UHC) dan home care yang belum tersosialisasikan dengan baik. 
 
”Indikasi masyarakat tidak banyak yang tahu karena penyerapan anggaran UHC sebesar Rp389 miliar hanya sekira 33 persen saja yang terserap. Anggaran itu untuk mengcover 378 ribu orang yang belum punya BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan, saat ini masih 278 ribu yang belum terkover,” ungkapnya.

Menurutnya, lantaran sosialisasi yang kurang, masyarakat tidak berbondong-bondong membuat BPJS gratis itu. Hal tersebut berdampak pada banyaknya anggaran yang belum terserap dan masih banyak masyarakat yang belum punya BPJS.
 
”Sementara untuk program home care, orang sakit yang tidak bisa jalan tinggal telpon puskesmas nanti ada ambulans, perawat menjemput langsung ke rumah. Nanti warga yang sakit itu diobati di tempat, kalau tidak bisa (tidak sembuh-red) dibawa ke rumah sakit. Itu juga masyarakat masih banyak yang tidak tahu,” ujar Amarno.

Amarno menginginkan ke depan Pemkot Tangerang melakukan pembangunan yang sifatnya bukan hanya sekadar pembangunan fisik. Menurutnya, pembangunan fisik di Kota Tangerang sudah cukup bagus, kerenanya postur APBD saat ini lebih diarahkan kepada peningkatan SDM. 

”Memang sudah banyak program mengarah kesitu (peningkatan SDM-red) tapi belum maksimal, misalnya soal penanganan lansia dan disabilitas belum tampak. Saya juga beranggapan kegiatan-kegiatan seremonial bisa dikurangi,” tuturnya. 

Sementara itu, Sekretaris Fraksi PAN DPRD Kota Tangerang M Sjaifuddin Z Hamadin menyorot soal penyerahan aset Kabupaten ke Kota Tangerang. ”Penyerahan asetnya jangan sampai hanya MoU, harus tersirat dan tersurat dan betul-betul dilakukan real,” katanya.
 
Lebih lanjut, ia juga meminta Pemkot Tangerang mendorong Pemprov Banten untuk membangun Sekolah Khusus (SKh) Negeri di Kota Tangerang. Kata dia, selama ini ABK tidak mempunyai pilihan untuk sekolah lantaran hanya ada sekolah swasta. 

”Belum lama ada puluhan guru yang membuat proposal untuk pembangunan SKh Negeri di Kota Tangerang. Menurut pengakuan para guru banyak yang belum sekolah karena keterbatasan biaya. Semoga Pemkot Tangerang memperhatikan itu,” pungkasnya. (Dens)